Rabu, 03 September 2008

Janji Tiga Bidadari

Setahun yang lalu

di salah satu anak tangga

gedung termegah Unair


Tiga bidadari duduk melingkar

bicaranya saling berbisik

sesekali ditingkahi senda gurau


Sejurus kemudian

ketiganya terdiam

hanyut dalam pikiran masing-masing


Sebulan sebelumnya

bidadari pertama bercerita pada bidadari ke dua

“mbak, aku mau nikah”

dengan santainya bidadari ke dua menanggapi

”alhamdulillah, hmm akhirnya ngaku juga, aku udah tahu”

”oh ya, masa”, jawab bidadari pertama

”iya dong, aku kan detektif”, kelakar bidadari ke dua

”so, what can I do for you dear?”, lanjutnya

“mbak..”, ucap bidadari pertama lirih, tertahan

dan bidadari ke dua hanya tersenyum

seolah bisa menebak kelanjutannya

”anti kan tahu, tak ada lagi yang bisa kami andalkan

menjadi penerus perjuangan ini, selain anti dan bidadari ke tiga”


Pada saat yang sama

di tempat yang lain

bidadari ke tiga menyampaikan cita-citanya

pada bidadari ke dua

”mbak, semester VI ini aku harus lulus”, ucapnya bersemangat

”aku ingin jadi dosen”, lanjutnya

”subhanalloh, hebatnya adikku”, jawab bidadari ke dua

”aku mendukung sepenuhnya cita-citamu,

tapi itu berarti anti akan lulus bersamaan denganku

lantas siapa ya yang bisa jadi penerus kami di kampus tercinta ini?”

bidadari ke tiga termenung, lantas menjawab

”kan masih ada bidadari pertama”

”hmm, bentar lagi dia juga mau ada amanah baru”, jawab bidadari ke dua

”tapi masih rahasia, kapan-kapan nanti tak jelasin ya say”, lanjutnya


Dan hari ini

saatnya ketiga bidadari itu bertemu

menyampaikan rahasia hati masing-masing


Pada suatu siang yang indah

di salah satu anak tangga

yang sepi dari keramaian


Bidadari ke dua memulai pembicaraan

”saudariku, bukankah dakwah dan tarbiyah

itu sepanjang hayat

yang tak ada kata cuti menikah, cuti melahirkan, dsb.

betapa pejuang-pejuang dakwah yang terdahulu di kampus ini

telah meletakkan pondasi yang kuat untuk diwariskan kepada kita

meski harus dibayar dengan ’jatah kelulusannya’

mereka rela ’berlama-lama’ kuliah, asal dakwah tetap bergelora

dan kini, kitalah yang menikmati hasilnya

ketika dakwah telah semakin mudah

kita bisa lebih konsen kuliah, mengukir prestasi

bahkan lulus dengan tempo lebih cepat dari rata-rata”


”karena itu ukhti..

tak ada dispensasi bagi kita

kita tidak boleh mengurangi amanah

apapun alasannya”


”jika kakak-kakak kita saja bisa kuliah

dan tetap mewariskan pondasi dakwah yang kuat untuk kita

apalah lagi kita? yang beban dakwahnya tak seberapa ini

pastinya lebih bisa mensinergikan dakwah dengan skripsi

atau mensinergikan dakwah dengan keluarga, bagi yang akan menikah”


”karenanya kita tak boleh

mengurangi amanah kita

sedikitpun..”


Sesaat, tiga bidadari itu tertunduk

bulir-bulir air berjatuhan

membasahi pipi mereka

seraya berangkulan

mereka berjanji

akan saling menolong dan mengurangi letih

”nikah ya nikah, skripsi ya skripsi, tapi amanah jalan terus dong!”

janji mereka bertiga


Kini..

setahun lamanya

setelah perjanjian itu

bidadari ke dua membuka kotak memory


Sebulan sesudah perjanjian itu

bidadari pertama melangsungkan pernikahannya

dia menepati janjinya

menjalankan amanah menjadi mas’ulah, menggantikan bidadari ke dua

yang harus berpindah pada amanah lain

dengan keikhlasan, ketelatenan, kecerdasan, dan kerja kerasnya

bidadari pertama telah membuktikan bahwa dia bisa

mensinergikan dakwah, keluarga, dan kuliahnya

pantaslah bila Alloh begitu mencintainya

hingga di suatu hari yang fitri

lima bulan setelah pernikahannya

bidadari pertama telah syahid menghadap sang Pencipta

bersama calon mujahid yang tengah dikandungnya

kami mengiringi kepergiannya dengan linangan air mata kebanggaan

kami berharap dia selalu bahagia di sisi-Nya


Sedang bidadari ke tiga

karena sesuatu hal

dia baru menyelesaikan kuliahnya pada semester VII

dia pun menepati janjinya

menjalankan amanah di kampus tercinta

lebih-lebih setelah bidadari pertama tiada

dialah satu-satunya kakak yang diharapkan bisa menguatkan adik-adiknya

sebentar lagi dia akan mewujudkan mimpinya menjadi dosen

dia akan segera terbang ke Malaysia dan menimba S2 di sana

setelah itu dia akan kembali ke kampus ini

dan menguatkan bangunan dakwah di dalamnya

dengan menjadi ADK permanen


Lantas, bagaimana dengan bidadari ke dua?


Empat bulan setelah perjanjian itu

dia telah menyelesaikan kuliahnya

namun dia berusaha menepati janjinya

dengan tetap menjalankan amanah di kampus tercinta

hingga kini

meski tentu, dia tak lagi se-all out dulu

dia ingin melebarkan sayapnya

dengan berjibaku pada sebuah partai dakwah

dia berusaha menekuni dunia jurnalis dan tulis-menulis

semata-mata demi sumbangsihnya untuk agama ini

meski mungkin tak seberapa

dia memusatkan konsentrasinya pada pemberdayaan perempuan

dan kesejahteraan anak-anak

juga semata-mata demi memperbaiki peradaban bangsa ini

satu hal yang sungguh sangat dia harapkan

hadirnya seorang teman sejati yang bisa menguatkannya

saat berlari dan mendaki terjalnya jalan dakwah ini

ah, mudah-mudahan tak lama lagi


Begitulah..

pada akhirnya ketiga bidadari itu

tetap berusaha menepati janjinya

dengan harapan

Alloh akan senantiasa memuliakan hidup mereka

dalam ma’rifat kepada-Nya

dan kelak berkenan mematikan mereka

dalam syahid di jalan-Nya


Moga rahmat dan berkah Alloh

senantiasa dilimpahkan

bagi mereka bertiga..


Aamiin

ya Robbal alamiin..


(26 Juli 2008, Pk.23.10 WIB)

Hani Fatma Yuniar